Profil Desi Purpitasari: Mengenal Sang Penulis 'The Strawberry Surprise' Lebih Dekat
- Oct 23, 2017
- 4 min read

Bagi pecinta film Indonesia, tentu sudah tak asing lagi dengan judul The Strawberry Surprise. Film yang dibintangi oleh Reza Rahadian dan Acha Septriasa ini diangkat dari novel berjudul sama karya Desi Puspitasari. Penulis yang juga hobby fotografi ini, selain sibuk menulis novel, juga aktif menulis naskah teater.
Nah, kebetulan kali ini Morty berkesempatan mewawancarai Desi yang saat ini tinggal di Jogja. Berikut kisahnya.
Morty : “Hi, Mbak Desi! Bisa ceritakan sedikit mengenai latar belakang mengapa Mbak Desi bisa terjun di dunia penulisan?”
Desi : “Pertama kali menulis saat kuliah dan dua kali menyabet penghargaan cerpenis pilihan Balairung UGM. Dari sana kemudian aku mulai menulis novel pertama yang berjudul Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku. Novel ini telah dialihwahanakan menjadi FTV Religi yang biasanya diputar saat bulan Ramadan di Indosiar. Novel Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku juga diterbitkan di Malaysia. Keberhasilan novel pertama tersebut membangkitkan semangat untuk menulis novel-novel berikutnya.”
Morty : “Selain menulis novel, apa lagi kesibukan Mbak Desi?”
Desi : “Berkesenian bersama kawan-kawan JARINGPROject (IG: @jaringproject). Tahun 2017 ini masih dengan tim JARINGPROject, aku kembali didapuk menulis naskah baru yang akan dipentaskan pada bulan Desember 2017 di acara Jagongan Wagen – Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo.”
Morty : “Kalau boleh tahu, Mbak Desi belajar menulis dari mana?”
Desi : “Autodidak, utamanya dari banyak membaca. Saat masih SMP, aku banyak membaca Goosebumps, dan saat SMA banyak membaca Fear Street, buku-buku karangan R.L Stine. Membaca juga novel-novel sastra. Pertama kali belajar menulis adalah saat masih duduk di baku SMP, yaitu dengan menyalin ulang bab-bab dalam Goosebumps. Kemudian mencatat kalimat-kalimat menarik. Baru kemudian menulis cerita sendiri secara utuh di buku tulis bergaris.”
Morty : “Bagaimana cara Mbak Desi mencari ide untuk menulis?”
Desi : “Memulainya dari memunculkan konflik. Seperti misalnya pada novel Mimpi Kecil Tita. Ide muncul saat aku melihat deretan kambing yang dijual untuk Idul kurban. Bagi orang yang berduit tentu gampang membeli kambing lalu didaftarkan ke masjid untuk dikurbankan. Tapi, bagaimana kalau ada seorang bocah yatim piatu tidak punya uang tapi sangat ingin membelikan kambing untuk berkurban simbah ke masjid? Atau pada Jogja Jelang Senja, novel yang berangkat dari kisah cinta beda agama dan berlatar belakang pergerakan mahasiswa tahun 1995 – 1998. Bagaimana sepasang kekasih ini akan menyelesaikan masalah mereka; ingin bersatu tapi secara agama dan tidak mungkin, dan ingin bersatu tapi risiko dibunuh diam-diam karena pekerjaan jurnalis sangat besar.”
Morty : “Apakah Mbak Desi melakukan riset terlebih dahulu sebelum menulis? Seperti apa prosesnya?”
Desi : “Setiap memulai menulis novel aku hampir selalu riset, terlebih bila tema dan materinya sangat berjarak. Misalnya, novel Jogja Jelang Senja berlatar tahun 1995 – 1998 di wilayah Kotagede dan Godean. Sebelum menulis aku menjelajahi satu demi satu tempat yang akan kugunakan untuk menulis novel. Selain itu juga mengumpulkan informasi dari koran-koran lawas di perpustakaan arsip. Riset dengan datang langsung ke lokasi juga kulakukan saat menulis novel Membunuh Cupid. Tokoh utamanya bekerja sebagai floris di hotel bintang lima di Jakarta. Demi mendalami karakter tokohnya dan juga konflik, aku datang dan terjun langsung ke bagian floris di salah satu hotel bintang lima di Jakarta.”
Morty : “Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses riset hingga penulisan sebuah novel?”
Desi : “Sekitar 3 – 4 bulan.”
Morty : “Wah, prosesnya cukup cepat, ya! Oiya, ngomong-ngomong tentang The Strawberry Surprise, bisa ceritakan perasaan Mbak Desi saat novel karya Mbak diangkat ke layar lebar? Bagaimana awal mula novel Mbak bisa diangkat menjadi sebuah film?
Desi : “Senang, karena proses pembacaan novel The Strawberry Surprise tersebut bisa lebih luas. Tafsir-tafsir ceritanya juga lebih beragam. Pada dasarnya aku senang bila tulisanku ‘ditulis’ ulang oleh orang lain menggunakan wahana yang lain (tentu atas sepengetahuan dan seizinku dan penerbit, ya). Waktu itu Starvision mengontak penerbit dan menanyakan apakah ada novel bagus yang bisa difilmkan. Penerbit menawarkan 6 judul novel, dan Starvision hanya memilih The Strawberry Surprise karyaku untuk difilmkan.”
Morty : “Wow, keren banget! Lalu, kira-kira siapa nih penulis favorit Mbak Desi?”
Desi : “Sekarang sedang mengidolakan John Steinbeck. Aku menyukai penulis yang secara cerita bagus, secara teknik menulis juga mumpuni. Dari sana aku bisa belajar menulis lebih efektif dan penyampaian cerita lebih kena.”
Morty : ”Dari seluruh karya Mbak, karya mana yang paling Mbak sukai? Mengapa?”
Desi : “Jogja Jelang Senja. Dari proses menulis novel romance ‘biasa’, dengan Jogja Jelang Senja aku belajar bagaimana menyampaikan sesuatu yang dianggap berat dengan cara yang ‘ringan’ tapi mengena. Konflik mengenai perbedaan agama juga memberiku keluasan bercerita mengenai interaksi toleransi antar manusia. Juga memberiku kebebasan bercerita. Bahwa aku seorang penulis berhak dan bisa bercerita apa saja yang aku mau. Tidak dibatasi genre tertentu dan atau agama tertentu. Dan lagi, ending-nya Jogja Jelang Senja bikin hati ambyar banget. :)
Morty : “Hihihi, alamat bikin baper nih buat yang baca! Ok, pertanyaan terakhir nih, Mbak. Adakah pesan untuk semua perempuan Indonesia?”
Desi : “Majulah, Perempuan Indonesia. Wah, malah kayak yel-yel apa gitu, ya. He-he. Intinya; bagi para perempuan jangan pernah mandek di satu sisi kehidupan. Ada banyak kesempatan dan peluang yang bisa dikerjakan untuk bisa terus berprestasi. Bagaimana pun keadaannya; single, married, mahmud, mahmud abas, dll. Bersenang-senang di zona nyaman boleh-boleh saja, tapi jangan sampai terhanyut. Hidup terlalu seru untuk dijalani dengan cara biasa-biasa saja. Dah, oh ya, jangan lupa dandan dan mempercantik diri. Bukan untuk orang lain,kok, tapi lebih untuk menghargai diri sendiri. Tampil cantik itu tidak salah, wajib malah.”
Bagi kalian yang tertarik untuk mengenal Mbak Desi dan karya-karyanya lebih jauh, silakan kunjungi websitenya di puspitadesi.com atau mengirim email ke mail@puspitadesi.com. Atau, jika ingin berteman di media sosial, silakan add facebook.com/puspitadesi, twitter @puspitadesi, dan Instagram @puspitadesi_














Comments